Total Tayangan Laman

Selasa, 14 Mei 2013

PERESMIAN PROGRAM PADAT KARYA INFRASTRUKTUR PEDESAAN


Bupati : Kue pembangunan tak bisa dibagi secara adil

Program Padat Karya Infrastruktur Pedesaan adalah program perdana di Kabupaten Lembata dalam masa kepemimpinan Bupati dan Wabup Lembata Elisaer Yentji Sunur dan Viktor Mado Watun. Pagu dana program tersebut sebesar Rp. 600 juta diperuntukkan bagi dua desa di Kecamatan Nubatukan, yakni desa Paobokol dan desa Pada dengan masing-masing desa senilai Rp. 300 juta. Desa Paobokol adalah salah satu dari dua desa sasaran yang telah rampung mengerjakannya hanya dalam tempo 13 hari kalender dari 30 hari yang direncanakan. Prestasi kerja dan tipikal masyarakat Paobokol yang mengerjakan jalan dalam tempo cepat tersebut menjadi contoh bagi desa lain di Lembata dan seolah mengundang perhatian khusus Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur untuk hadir dan meresmikan pemanfaatannya pada hari Jumad, 15 Maret 2013.


Bupati Lembata dalam sambutannya ketika meresmikan program padat karya dengan fisik kegiatan berupa rapat beton untuk jalan dalam desa Paobokol mengatakan, kue pembangunan tak bisa dibagi secara adil. Adil bukan berarti tidak bijak, kalau bijak berarti proporsional, tetapi proporsional bukan harus dibagi ke sembilan kecamatan karena keterbatasan anggaran.
Dikatakan, dengan dana Rp. 600 juta tentunya tidak semua desa bisa terlayani dengan program tersebut karena program tersebut adalah perdana di Kabupaten Lembata maka dipilih cukup dua desa terdekat dalam Kecamatan Nubatukan agar mudah diawasi.
Di hadapan Kadis Sosial dan Nakertrans, Camat Nubatukan Begu Ibrahim, BA, Kades Pada dan Paobokol serta para undangan lain dan seluruh warga Paobokol, Bupati Sunur memuji Kades Paobokol Ny. Erdawati Udak yang selalu mendorong dan mendampingi warga dengan memberikan improvisasi kepada masyarakat untuk berperan dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Kepada warga desa yang menyaksikan seremonial peresmian, Bupati Sunur juga meminta agar jalan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin dan tidak sekedar menjadi kebanggaan semata tanpa dibarengi oleh kemauan untuk memelihara. “Jangan menjadi kebanggaan semata tatkala jalan ini diresmikan tetapi setelahnya tidak dapat ditanggulangi. Apabila kemudian hari ada yang keropos dan berlubang maka kewajiban masyarakat dalam berswadaya yang mengatasinya, dipelihara dan dirawat, karena program tersebut tak mungkin masuk lagi ke desa ini”,pintanya mengharapkan.
Kadis Sosial, Tenaga Kerja dan Transigrasi Kabupaten Lembata, Markus Lela Udak, S.IP dalam laporannya menuturkan, tujuan dari program Padat Karya Infrastruktur Pedesaan adalah untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran serta sebagai perekat untuk memupuk kebersamaan dalam bergotong royong.
Sementara sasaran dari program tersebut, demikian Lela Udak menambahkan, ada dua yakni program Padat Karya Infrastruktur dan program Produktif, dalam arti untuk memberikan peluang bagi kelompok masyarakat untuk berusaha.
Dijelaskan, tahun 2013 diharapkan agar program tersebut cepat selesai dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai penerima program dan selanjutnya akan dilihat dan dinilai oleh pihak Kemenenterian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI pada bulan Juni mendatang.
Menurut Kadis Lela Udak,  program tersebut bisa datang dan diselesaikan karena adanya pendekatan dan terobosan oleh Bupati Lembata melalui Kadis Sosial Nakertrans Lembata.
Seturut penuturan Kadis Lela Udak, bahwa tanggal 4 Januari silam, dirinya ditugaskan ke Jakarta untuk bertemu dengan Dirjen Penempatan Tenaga Kerja pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan alhasil ada anggaran Padat Karya untuk Kabupaten Lembata senilai Rp. 600 juta dengan dua titik sasaran yakni desa Paobokol dan desa Pada.
Sesuai petunjuk operasional, lanjutnya, kegiatan tersebut harus dilaksanakan selama 30 hari kalender dengan menyerap 80 tenaga kerja yang diupah Rp. 45.000/orang/hari. (Pino Odung/Humas)